Latest Post
Showing posts with label Game Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Game Tradisional. Show all posts

“Battle Of Castle”




Menjadi seorang prajurit atau tentara yang melindungi sebuah istana atau negara mungkin menjadi khayalan atau impian banyak anak laki-laki di dunia.
Sebab secara kodrat laki-laki memang berkedudukan sebagai seorang pelindung di muka bumi. Namun, kami bukan akan membahas masalah kedudukan atau kewajiban laki-laki, melainkan mengenai sebuah permainan tradisional pemacu adrenalin laki-laki, yang tak lain adalah "Benteng".
Bermain Benteng bukan berarti memainkan bidak benteng di papan catur, tapi sebuah permainan dimana para pemainnya saling bersaing dalam menjaga dan membobol benteng masing-masing.
Layaknya sebuah peperangan, dalam bermain Benteng, para pemain bertindak sebagai para prajurit yang bertugas menjaga sebuah benteng (umunya berupa tiang atau pohon) yang diibaratkan sebagai istana mereka dari serangan musuh, dan berusaha membobol benteng lawan demi memenangkan peperangan.
Selain itu, menyandera dan membebaskan sandera merupakan salah satu bagian menarik yang menghiasi permainan ini. Untuk menyelami permainan ini lebih lanjut, berikut cara dan tahapan bermainnya :
  1. Cari teman bermain minimal 8 orang, dan harus berjumlah genap.
  2. Cari dua buah tiang atau pohon yang besarnya sama atau tak jauh berbeda dan berjarak minimal 50
    meter dari tiang ke tiang. Usahakan bermain di lapangan atau tempat terbuka yang aman, sebab bila di jalan akan rentan tertabrak.
  3. Setelah tiang dan tempat ditentukan, bagi pemain ke dalam dua kelompok yang berjumlah sama.
  4. Setelah kelompok terbentuk, masing-masing kelompok menentukan tiang yang akan dijaga. Bila tempat bermain bertanah landai, tiang yang berada di tempat yang lebih tinggi akan lebih menguntungkan.
  5. Permainan pun dimulai, masing-masing kelompok dapat mulai menyerang secara bersamaan atau bergantian.
  6. Cara menyerang yaitu menggunakan tangan, dimana untuk mematikan atau menyandera lawan, pemain harus menyentuh tubuh lawannya.
  7. Sebelum menyerang, pemain harus menyentuh benteng miliknya terlebih dahulu untuk menentukan kedudukan prajurit. Kedudukan prajurit disini memiliki arti bahwa pemain yang berkedudukan lebih tinggi tidak dapat dimatikan pemain yang lebih rendah. Kedudukan ditentukan dari tengat waktu setelah menyentuh benteng, jadi bagi pemain yang baru saja menyentuh benteng,kedudukannya akan lebih tinggi dari pemain yang menyentuh benteng satu menit yang lalu. Jadi, bisa dikatakan bahwa menyentuh benteng itu seperti mengisi ulang amunisi atau kekuatan.
  8. Pemain yang berhasil dimatikan akan menjadi sandera dan ditempatkan di daerah penyandera tanpa diperbolehkan mengikuti permainan.
  9. Untuk membebaskan sandera, rekan dari sandera harus dapat menyentuh tangan dari sandera. Setelah berhasil dibebaskan, sandera tidak diperbolehkan mengikuti permainan sebelum menyentuh benteng miliknya, dan apabila sandera kembali tertangkap sebelum sempat menyentuh benteng, ia akan kembali menjadi sandera.
  10. Inialah tahap yang paling menyenangkan dan menarik dari permainan ini, yaitu membobol benteng lawan. Dalam membobol benteng lawan, pemain diperbolehkan menggunakan berbagai cara dan menyerang benteng dari berbagai sisi (kanan, kiri, atas dan bawah). Maka dari itu, dibutuhkanlah strategi maupun jebakan yang taktis dalam menyerang dan bertahan.
  11. Ketika salah satu pemain berhasil menyentuh benteng lawan tanpa berhasil dimatikan, maka perolehan nilai pun didapat kubu yang menyentuh, setelah itu baik pemain atau sandera dapat kembali ke kubunya masing-masing, dan permainan pun dimulai kembali.
  12. Pemenang permainan ini ditentukan dari banyaknya perolehan suatu kelompok dalam menyentuh benteng lawan. Jumlah perolehan dapat juga dibatasi, misalnya kelompok mana yang lebih cepat membobol benteng lawan sebanyak lima kali, akan dinyatakan sebagai pemenang.

Itulah salah satu permainan tradisional Indonesia yang dapat memacu adrenalin dan cukup menguras stamina. Permainan ini bukan hanya diperuntukkan untuk laki-laki, sebab perempuan pun boleh memainkannya. Namun, karena pemain dituntut untuk terus bergerak dan rentan dengan luka-luka kecil, maka berhatilah-hatilah dalam memainkannya. 

Guard Your Castle And Settle The Battle!
 

“The Seven Sealed Stone”











Mungkin ada yang bingung atau asing dengan judul artikel ini dan menerka-nerka jenis permainan asing apakah tersebut. Namun, ini bukan nama permainan luar negeri kok, tapi hanya istilah keren dari permainan tradisional asal Indonesia yaitu “Bete Tujuh”.

Bete disini bukan singkatan dari Boring Total yang biasa digunakan remaja masa kini untuk menggambarkan kejenuhan, melainkan sebuah sebutan untuk puing-puing atau pecahan bahan bangunan, seperti genting atau batu.

Seperti namanya, permainan “The Seven Sealed Stone” atau “Bete Tujuh” merupakan permainan tradisional yang menggunakan tujuh bete sebagai alat bermain. Cara bermainnya sejenis dengan petak umpet, dimana ada seorang yang mencari, dan yang lainnya bersembunyi.
 Namun yang membedakannya, bila dalam petak umpet, pemain yang mencari memberikan waktu bagi pemain yang bersembunyi dengan berhitung, sedangkan waktu bersembunyi dalam permainan Bete Tujuh ditentukan dengan seberapa cepat sang penjaga menyusun betenya.
Untuk mengetahui cara bermain Bete Tujuh lebih jauh, berikut tahapan permainanya :

  • Cari teman bermain minimal tiga orang, tapi akan lebih seru apabila dimainkan lebih dari lima orang. 
  • Cari bete (umumnya pecahan genting) sebanyak tujuh buah, lalu tumpuk diatas tanah. 
  • Lakukan undian untuk menentukan siapa yang akan menjadi penjaga bete. Setelah penjaga ditentukan, lalu pemain yang lainnya diharuskan untuk menjatuhkan  tumpukkan bete tersebut, dengan cara melempar sebuah benda (biasanya sandal para pemain) ke arah bete dari jarak yang ditentukan, mirip dengan cara melempar dalam permainan bowling. 
  • Biasanya terdapat ketentuan dalam menjatuhkan tumpukan bete, yaitu apabila seorang pemain gagal menjatuhkan bete dalam tiga kali percobaan, maka pemain tersebut akan dikenakan sanksi yaitu menjadi si penjaga bete, sedangkan si penjaga akan menjadi pemain yang melempar. 
  • Ketika tumpukan bete berhasil dijatuhkan, permainan pun dimulai. Si penjaga bete harus secepatnya mengumpulkan dan menumpuk kembali bete yang berserakan untuk mempersingkat waktu para pemain bersembunyi, sementara pemain lain segera bersembunyi di tempat yang mereka tentukan. 
  • Setelah tumpukan bete berhasil ditumpuk kembali, si penjaga harus segera mencari para pemain yang bersembunyi sambil menjaga tumpukan bete, sebab apabila tumpukan bete rubuh atau berhasil dijatuhkan kembali oleh pemain lain ketika penjaga sudah menangkap satu atau lebih pemain, maka penjaga harus kembali menyusun bete tersebut, sedang pemain yang sebelumnya tertangkap, dapat kembali bersembunyi. Hal tersebut dapat sangat merepotkan penjaga, maka dari itu, biasanya dibuat peraturan dimana pemain yang menghancurkan tumpukan bete saat penjaga belum menemukan satu orang pun, maka pemain yang menghancurkan tumpukan tersebut, langsung dijadikan sebagai penjaga, dan penjaga sebelumnya diperbolehkan untuk bersembunyi. 
  • Untuk menangkap pemain yang bersembunyi, selain harus menemukan tempat persembunyiannya, untuk mematikan pemain yang bersembunyi, si penjaga harus menyebut nama pemain sambil menginjak atau yentuh sebuah alas (biasanya batu atau sandal penjaga) yang dijadikan tempat pembakaran, persis seperti mematikan lawan dalam permainan baseball. Apabila penjaga salah menyebutkan nama, atau menyebutkan nama tanpa menginjak atau menyentuh alas, maka pembakaran dinyatakan tidak sah, dan pemain yang ketahuan tersebut dapat bersembunyi kembali. 
  • Pemain yang bersembunyi diberikan dua buah pilihan untuk memenangkan permainan, yaitu dengan merubuhkan tumpukan bete atau mendahului penjaga dalam menginjak alas. 
  • Penjaga dinyatakan menang, ketika berhasil menemukan pemain terakhir yang bersembunyi tanpa menjatuhkan tumpukan bete. 
  • Pemain pertama yang berhasil dimatikan, akan bertindak sebagai penjaga di putaran selanjutnya, lalu permainan pun dimulai kembali.
Memenangkan permainan ini bukanlah hal yang mudah, sebab penjaga membutuhkan ketangkasan, konsentrasi, kesabaran dan kecepatan, untuk bisa menemukan seluruh pemain yang bersembunyi dan menjaga tumpukan bete tetap utuh. Maka dari itu, kadang penjaga yang lelah atau tak mampu meneruskan permainan akan menyerah bahkan dapat membuatnya meneteskan air mata.
Selain untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu luang, permainan ini pun berguna untuk melatih kemampuan motorik dan kemampuan kognitif (berpikir), juga dapat menjadi alternatif untuk menghilangkan candu terhadap video game atau online game.
Itulah segelintir informasi mengenai permainan tradisional Indonesia bernama “Bete Tujuh”. Mungkin kini sudah  kalah populer dengan permainan canggih masa kini, namun akan terus menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang patut kita lestarikan. 

Seal The Stone Or It Will Break As Soon!
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ARTIKEL MAIN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger